So This is Heartache?

By Devi Santi Ariani - August 28, 2014

Pic credit @10969Taka IG
edit by @arianidev
=====================================================================


“Kau tidak benar-benar bermain musik bukan? Kau hanya main-main disana. Uang. Ketenaran. Cewek seksi. Melarikan diri… kau serius bermusik hanya ditahun-tahun awal dulu saja. Bilang bahwa ingin meraih mimpi, padahal hanya sepanjang kau bilang begitu saja. Seperti band rock lainnya…”

Tanpa menatap gadis itu aku menaruh segelas Gin and Tonic di atas coaster hadapannya. Walaupun terdengar seperti seorang tertuduh, Taka sepertinya tidak terkejut dengan kalimat yang ditusukkan ke arahnya barusan. Ia duduk diam dengan dua siku bertumpu diatas meja bar, kedua telapak tangannya terkait satu sama lain. Sama sekali tidak ada niat untuk membela diri.

"Aku mampir karena khawatir padamu. Tapi sepertinya kau lebih dari baik-baik saja.." sambung gadis itu sambil menimang Gin and Tonic yang sudah setengah kosong. Aku menghela nafas, Gadis ini bodoh, sungguh.. pikirku. Taka mengangkat kepalanya, mata kami bertemu. Dengan tatapan menyelidik, aku tahu Taka sedang mencoba membaca ekspresiku. Apakah aku mengerti apa yang mereka bicarakan atau tidak.

"Can i get you something?" Menghindari tatapannya tangan kiriku refleks bertumpu pada pinggiran meja bar selagi tanganku yang lain mengulurkan coaster dan menaruhnya di depan Taka. Aku tidak pandai berbohong, walaupun hanya ekspresi wajah pasti bisa ketahuan. Separuh wajahku terasa panas disengat tatapan tajam si gadis yang duduk disampingnya. Dia pasti sedang mengutukku dalam hati, mungkin kata-kata seperti 'bartender sialan' atau semacamnya. Aku sungguh tidak berniat menghalangi alur pembicaraan satu arah mereka, hanya saja aku tidak ingin tertangkap basah menguping -walaupun secara teknis tidak bisa dibilang menguping- dan lagi aku tidak tahan melihat Taka yang seperti mendengarkan radio butut dengan saluran musik yang suaranya sudah tidak karuan.

"Lemon Tea, please" jawab Taka dengan aksen dan bunyi 'r' yang aneh. Aku mengangguk lalu pergi ke counter belakang untuk menyiapkannya.

Kira-kira hampir lima bulan yang lalu, aku mengenal Taka di bar ini. Aku masih menjadi bertender trainee dan Taka pelanggan yang baru pertama kali datang ke bar ini. Kami sama-sama canggung di lingkungan baru. Mungkin itulah satu-satunya persamaan kami saat itu, dan kami langsung jadi teman baik.

Beberapa kali Taka datang bersama teman-temannya dan mengenalkanku pada anggota band yang lain. Meski akhirnya aku berteman cukup dekat dengan mereka berempat, rasanya ada perbedaan yang menyesakkan. Mereka bukan hanya datang dari negara lain, mereka datang dari semesta yang lain. Ada ruang hampa udara diantara kami yang menyerap suara apapun yang berusaha aku ungkapkan pada Taka. Seperti berteriak di dalam air, semakin aku berusaha semakin sakit dadaku dibuatnya. Aku baru akan menuang es ke dalam gelas saat gadis itu menghela nafas berat. "Aku sudah dengar single baru kalian. Tidak suka. Seperti..."

Cukup. Aku tidak tahan lagi, gadis ini berbicara seperti ia mengenal Taka lebih dari Taka mengenal dirinya sendiri. Aku berbalik dan mengulurkan lemon tea pesanan Taka kehadapannya.

"Actually, aku mengunduh single-mu kemarin. Yah, bagian autotune-nya memang agak menganggu dan aku tidak pernah suka autotune. Tapi lagunya hebat, aku tidak menyangka suaramu sekeren itu," ujarku memotong kalimat gadis itu. Lagi, ia menatapku sinis karena berhasil merebut perhatian Taka sepenuhnya. Yah, tidak sepenuhnya, karena sejak awal perhatiannya memang tidak terpusat pada gadis itu.

"Really? Thanks," jawab Taka sambil tertawa, tangannya yang basah akibat embun es di gelas yang sedari tadi ia genggam menyisir pelan helai rambut yang jatuh di atas matanya. Aku terkesiap. Oh my God, You guys can not shake your hair with your wet hand in front of a girl that had crush on you. That is so dangerous.

Lalu, seperti kembali ditambatkan pada dermaga dengan rantai besi. Kesadaranku ditarik paksa ke dunia nyata saat si gadis itu -dengan kasar- meletakkan gelas kosongnya dihadapanku sambil mengacungkan jari telunjuknya, memesan satu gelas lagi gin and tonic dan menegaskan posisiku saat ini.

Ouch.

"Seperti yang kubilang barusan : aku tidak suka single baru kalian. Segitu saja? Maksudku, kalian bisa lebih baik dari ini. Kalau cuma seperti itu saja, di Jepang juga bisa. Tidak perlu sampai datang jauh-jauh ke sini" ucap gadis itu dalam satu tarikan napas.

"Dan kami, aku tidak akan punya pengalaman apapun," jawab Taka, tanpa merubah posisi duduknya ia menoleh dan menatap gadis itu lekat di manik hitam matanya lalu melanjutkan, "Ini proses, dear. Kami ingin mencoba hal-hal baru, keluar dari zona aman yang kami tinggalkan di Jepang. Bukankah seharusnya kau mendukungku?"

"Ini salah! Musik kalian berubah, kau berubah. Aku tidak mungkin mendukungmu jika kau melakukan kesalahan!"

"Berubah tidak selalu salah kan? Musik kami juga sedikit berubah setelah Alex keluar dari band, tapi lihat kami sekarang. Honey, it's not like i am using drugs or doing violent things. I am just experimenting on my music, is that really bad?"

There you go, Taka's puppy eyes.

"Ya. Ya. Oke. Lalu, bisa kau jelaskan tentang pesta-pestanya? Cewek pirang dan seksinya? Ini kenapa aku bilang kau berubah," katanya setengah berteriak, lalu lekas menyambar gin and tonic yang baru saja kuletakkan diatas meja. 

'Menurutku, bukan Taka yang berubah, kau yang cemburu,' ujarku dalam hati.

"Aku tidak peduli lagi. Entah ini mimpimu atau bukan, lebih baik kau pulang ke Jepang. Tidak ada gunanya tinggal lama disini jika kau melupakan asal-usulmu. Melupakan semua fans yang mendukungmu sejak awal, melupakan aku," dengan muka marah gadis itu berdiri dari bar stool dan hendak beranjak pergi. Taka berdiri, meraih sebelah tangannya dan memintanya tetap tinggal.

Rasanya aku ingin menghilang saat itu juga. Menguap menjadi udara panas dan keluar dari bar lewat ventilasi udara, tapi tidak bisa. Aku tetap berdiri disana, melihat cowok yang kutaksir berusaha mempertahankan ceweknya yang keras kepala dan cemburuan.

Kau pasti berpikir kenapa aku sangat yakin dengan apa yang kupikirkan. Selama hampir setengah tahun aku mengenal Taka, aku tahu bagaimana ia di sini. All the parties, all the hot-sexy girls, all the drinks is just a mask. He is homesick. Gadis ini, gadis yang dipertahankannya setengah mati tidak tahu kalau enam jam yang lalu Taka menelponku dengan suara hampir serak dan berkata berulang kali bahwa pacarnya akan datang.

"Oh, sorry. You have to watch that," ucap Taka saat sadar aku masih berdiri dibalik meja bar, melihat seluruh adegan mereka berdua.

"Uh, excuse me for a second," aku melempar apron ku dan bergegas keluar dari pintu belakang lalu memutar ke pintu depan bar, gadis itu pasti belum jauh. Aku berlari menyusulnya saat ia menghilang di belokan. "Wait!"

Dia berhenti dan menatapku yang berdiri canggung sambil menyelipkan beberapa helai rambut warna tembagaku ke belakang telinga. Aku sendiri bingung, lupa apa yang sedang kulakukan dan untuk apa aku berlari mengejarnya. Bukankah lebih baik kalau aku tinggal di bar dan menyemangati Taka?

"I know you like him," ucapnya tiba-tiba. Aku tercekat, ketahuan. Matanya lurus menatapku yang berusaha menghindari tatapannya. "I understand. It's not like you can help it, he's too charming." lanjutnya kemudian.

"Perlakuanmu barusan, bukankah terlalu berlebihan?" Aku menemukan suaraku dan membalas tatapan matanya, "Kau tahu, ini bukan seperti apa yang terlihat di media sosial. Taka dan yang lain benar-benar bekerja keras untuk ini." Gadis itu membuang muka, menatap beberapa taksi kuning-hitam yang melewati kami.

"Aku memintanya pulang bukan tanpa pertimbangan. Ini untuk kebaikan Taka sendiri. Disini, Taka terlalu sering berpesta dan aku dengar produser mereka juga ikut memutuskan musik mereka akan seperti apa nantinya, apa itu terdengar bagus? Apa mereka harus mengikuti orang lain dan meninggalkan ciri musik mereka sendiri?"

"Kedengarannya lebih seperti untuk kebaikanmu sendiri," Aku berhenti untuk menghela napas singkat, "Kau tahu ini mimpinya bukan? Jika kau memutuskan untuk tidak mendukungnya, berarti kau belum cukup mengenal Taka."

Aku melipat kedua tanganku didepan dada lalu memperhatikan ekspresinya. Dia marah, terlihat jelas. Dia hanya berdiri disana, menatap mataku yang berwarna abu-abu cerah sambil berpikir. Mungkin mengumpulkan kata-kata untuk membalas argumenku barusan. Aku sendiri tidak tahu apa yang merasukiku, seharusnya kubiarkan saja dia pergi dan berharap mereka putus. Tapi tidak bisa, something doesn't feels right.

"Tinggallah beberapa saat," ucapku memotong tepat sebelum gadis itu bersuara lagi, "Tinggallah dan lihat bagaimana Taka berusaha keras mewujudkan apa yang dia sebut mimpi. Tinggal dan nilailah apa yang kau pikir berubah dari cowok yang sama-sama kita sukai, dan jika pada akhirnya itu tidak merubah pikiranmu sama sekali. Maka kau bebas untuk pergi, dan serahkan dia padaku."

==

Aku melempar tas dan menjatuhkan diri diatas ranjang. Siapa bilang jadi barista di Starbucks lebih mudah daripada jadi bartender, punggungku pegal sekali. Aku berhenti menjadi bartender di bar tempat aku bertemu dengan Taka delapan bulan yang lalu. Jadi sudah sekitar dua atau tiga bulan aku tidak bertemu dengannya. Sama sekali tidak ada kabar darinya. Taka hanya menelponku sekali saat dia tahu aku berhenti, sekarang yang kudengar Taka dan yang lain kembali ke Jepang untuk konser.

Apakah gadis itu menuruti saranku atau tidak, aku tidak tahu.
Apakah mereka masih bersama atau sudah putus, aku tidak tahu.
Apakah rasa sukaku pada Taka hanya bias seperti fans kepada idolanya, aku tidak tahu.

Aku membuka laptop dan mengakses Youtube lalu men-charge iPhone ku yang kehabisan baterai. Aku berpaling ke layar dan menemukan sebuah video berada di urutan paling atas newsfeedku.


'Heartache ONE OK ROCK LIVE in YOKOHAMA'

-Fin-

=====================================================================
note :
First quote by @egasani
Inspired by @hrlna_ : Untittled

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar