Han Kang dan Kompleksitas Terjemahan

By dev - November 08, 2018



Versi Bahasa Inggris dari karya Han telah memenangkan pujian yang luas. Apakah karya-karya itu sesuai dengan karya aslinya?

Seberapa harfiah sebuah teks terjemahan seharusnya? Nabokov, yang fasih bicara dalam tiga bahasa dan aktif menulis dengan dua bahasa diantaranya, percaya bahwa “terjemahan paling kaku sekalipun lebih berguna seribu kali daripada parafrase yang paling indah.” Borges, di sisi lain, berteguh bahwa seorang penerjemah harus, tidak hanya menyalin teks namun juga merubah dan memperkaya teks tersebut. “terjemahan adalah tahap lanjut dari sebuah peradaban,” Borges berkeras—atau tergantung pada terjemahan yang kau temui, “tahap lanjut dari menulis.” (Ia menulis kalimat ini dalam Bahasa Perancis, satu dari beberapa bahasa yang ia kuasai.)

Pada 2016, “The Vegetarian” menjadi novel berbahasa Korea pertama yang memenangkan The Man Booker International Prize, yang dianugerahkan pada penulisnya, Han Kang dan penerjemahnya, Deborah Smith. Dalam dunia berbahasa Inggris, Smith, seorang mahasiswa doktoral berusia dua puluh delapan tahun yang baru saja mulai mempelajari bahasa Korea enam tahun sebelumnya, secara luas dipuji atas karyanya. Meskipun begitu, dalam media Korea, kebanggaan nasional yang mengikuti kemenangan Han—apalagi cetakan bukunya yang melonjak dua puluh kali lipat dianggap sebagai kemenangan yang luar biasa daripada publikasi awalnya pada 2007—segera dibayangi oleh tuduhan kesalahan terjemahan. Walaupun Han telah membaca dan menyetujui hasil terjemahan Smith, Huffington Post Korea menegaskan bahwa terjemahan Smith betul-betul melenceng. Smith mempertahankan diri saat Seoul International Book Fair, mengatakan, “Saya hanya akan mengizinkan diri saya untuk tidak jujur, demi kejujuran yang lebih besar.”

Kontrovesi ini menjangkau banyak pembaca Amerika pada September tahun lalu, saat The Los Angeles Times mempublikasikan potongan artikel Charse Yun, seorang keturuan Korea-Amerika yang mengajar kursus terjemahan di Seoul. (Artikel tersebut memperpanjang perdebatan yang pernah Yun mulai di bulan Juli dalam sebuah majalah daring  Korea Expose.) “Smith memperkuat gaya Han yang lengang dan teduh serta membumbuinya dengan kata keterangan, superlatif dan kata-kata penegas lain yang tak ada dalam karya aslinya,” tulis Yun. “Ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, namun hampir di setiap halaman.” Hampir seperti Raymond Caver diubah seperti Charles Dickends, tambahnya. Hal ini bukan hanya, menurut Yun, masalah akurasi namun juga masalah keterbacaan budaya. Korea memiliki tradisi literasi yang kaya dan beragam—dan dalam sejarah terkini hal tersebut berkelindan erat dengan dunia Barat, terutama Amerika Serikat. Namun, sedikit dari karya literasi Korea meraih keberhasilan di dunia berbahasa Inggris, dan negaranya, kendati kerap muncul dalam berita utama di Amerika, literasi Korea tidak masuk dalam imajinasi populer dengan cara yang sama seperti negara tetangga yang lebih besar, Cina dan Jepang. Han Kang mengisi kekosongan tersebut—atau paling tidak, ia mulai. Tapi, jika kesuksesannya bergantung pada kesalahan terjemahan, seberapa banyak nilai yang betul-betul sampai?

The Vegetarian” (Hogart) memiliki struktur menyerupai fabel. Ia berpusat pada penghancuran diri yang jelas pada tubuh manusia. Tubuh manusia tersebut adalah milik seorang ibu rumah tangga bernama Yeong-hye, yang dideskripsikan oleh suaminya, Tuan Cheong sebagai, “betul-betul biasa dalam segala hal.” Bagi Tuan Cheong, yang dalam hidup selalu condong ke haluan tengah, hal itu menjadi daya tarik. “Kepribadian pasif dari wanita ini yang bisa ku deteksi merupakan kesegaran atau pesona, atau apa pun yang sangat polos, sangat cocok untukku,” ujarnya. Namun, ada satu hal yang menurut Tuan Cheong tidak hebat tentangnya; ia benci mengenakan bra—ia merasa bra terlalu meremas dadanya. Ia menolak menggunakan bra, bahkan di muka umum, juga di depan suaminya, temannya, bahkan juga ketika Tuan Cheong berkata bahwa payudaranya tidak cocok untuk tampilan no-bra. Ia menganggap hal ini memalukan.

Suatu pagi, Tuang Cheong mendapati istrinya menyingkirkan semua daging dari kulkas. Ia memutuskan menjadi seorang vegetarian, ujar Yeong-hye pada suaminya, karena ia mendapatkan sebuah mimpi. Sebelumnya, ia bisa menganggap istrinya sebagai, "seseorang... yang menyiapkan makanan di atas meja dan menjaga rumah selalu rapi. Sekarang, ia malu dan merasa dikhianati. Pada akhirnya, Tuan Cheong merasa terangsang dengan ketidaksponanan istrinya dan mulai memaksa Yeong-hye untuk melayaninya. Dikuasai suaminya, Yeong-hye lemas. Reaksinya yang bungkam, bagi Tuan Cheong, membangkitkan citra masa lalu Korea sebagai negara jajahan, “ia hampir seperti ‘wanita penghibur’ yang diseret paksa dan aku adalah tentara Jepang yang menuntut pelayanannya.”

Keputusan Yeong-hye menjadi vegetarian mendapat teguran yang mengerikan dari seluruh keluarganya, terutama sang Ayah, seorang veteran perang Vietnam yang bertendensi melakukan kekerasan sebagai akibat dari taruma peperangan. (Lebih dari tiga ratus ribu bangsa Korea mengabdi bersama tentara Amerika dalam konflik tersebut.) Selama makan malam keluarga, ia memaksa Yeong-hye menelan sepotong daging babi asam-manis. Hasilnya, Yeong-hye memotong pergelangan tangannya selagi seluruh keluarga melihat penuh kengerian. Akhirnya, ia dimasukkan ke sebuah lembaga.

Mendekati akhir cerita, saudari Yeong-hye yang lebih tradisional, In-hye, mengunjunginya di rumah sakit. Tiga tahun telah berlalu sejak makan malam keluarga itu, dan In-hye mulai menyadari bahwa perannya sebagai putri tertua yang pekerja keras dan kerap mengorbankan diri sendiri bukanlah simbol kedewasaan melainkan, kepengecutan. Sebuah taktik bertahan hidup. Di rumah sakit, berat badan Yeong-hye turun hampir 66 kilogram. Ia menolak bicara atau memakan makanan dalam bentuk apa pun, ia menghabiskan hampir seluruh waktunya mencoba meniru sebuah pohon; berdiri dengan tangannya dan berjemur di bawah terik matahari. Han Kang berkata bahwa karakter Yeong-hye terinspirasi atas sebuah kalimat dari Yi Sang, seorang penyair modern awal abad dua puluh yang sangat disensor di bawah kekuasaan Jepang dan yang karyanya membangkitkan kekerasan dan pergolakan imperialisme. Yi mendeskripsikan penarikan kataonik sebagai sebuah gejala penindasan. “Aku percaya kalau manusia seharusnya menjadi tumbuhan,” tulisnya. Jika Yi dikuasai trauma atas kolonialisme, Han berfokus pada penderitaan yang lebih intim dan pribadi. Tapi, tulisannya juga berakar dalam sejarah Korea. Hal ini, menurut Charse Yun, adalah resiko yang hilang dalam terjemahan. Ini adalah salah satu alasan “banyak pembaca Barat menganggap fiksi Korea tidak menyenangkan,” tulisnya, kepasifan dari naratornya. Smith, akan tetapi, menekankan ‘konflik dan tekanan’, membuat karya Han lebih menarik untuk pembaca Barat daripada pembawaan aslinya. Yeong-hye mengabaikan pertanyaan dari suaminya, seolah, Tuan Cheong berkata bahwa, “hampir seolah ia tidak mendengarku,” dalam terjemahan harfiah Yun pada bagian tersebut. Dalam versi Smith, suaminya menegaskan bahwa Yeong-hye, “benar-benar tidak menyadari interogasi yang kulakukan berulang-ulang.”

Namun yang membuat Yeong-hye menjadi karakter yang berpengaruh bukan masalah agresi yang meningkat atau perjuangan yang lebih jelas. ‘The Vegetarian’ dibaca sebagai perumpaan tentang perlawanan sunyi dan konsekuensinya; juga perenungan lebih dalam tentang budaya Korea, dimana pertanyaan tentang agensi dan konformitas memiliki resonansi tertentu. Hal-hal ini adalah pertanyaan pada jantung karya Han.

Han Kang lahir pada 1970 di Kwangju, sebuah provinsi di ujung semenanjung Korea dengan populasi, pada saat itu, sebanyak kurang lebih enam ratus ribu jiwa. Ayahnya, Han Seung-won, seorang novelis terkemuka dan penerima beberapa penghargaan sastra. (Dalam beberapa dekade terakhir, Han telah memenangkan beberapa penghargaan serupa.) Kedua saudara laki-laki Han juga penulis. Han Seung-won adalah seorang guru sekaligus penulis, dan keluarganya kerap berpindah-pindah seiring pekerjaannya. Ketika masih anak-anak, Han pernah bersekolah di lima sekolah dasar yang berbeda, ia mencari ketetapan dalam buku.

Keluarganya meninggalkan Kwangju, menuju Seoul pada 1980, ketika Han berumur sepuluh tahun, tidak lama setelah Chun Doo-hwan, seorang jenderal Sang Penjagal, merebut kekuasaan lewat kudeta dan menyatakan darurat militer. Demonstasi damai mahasiswa di Kwangju berakhir ricuh: tentara menembak, menusuk dengan bayonet dan memukuli demonstran dan penonton. Milisi sipil yang terdiri dari mahasiswa dan pekerja, mengambil alih senjata dari pos polisi setempat dan memaksa para tentara untuk mundur sementara ke pinggir kota. Kejadian ini, yang disamakan dengan Pembantaian Tiananmen Square di Cina, berlangsung selama sembilan hari; jika tidak dua ribu, setidaknya dua ratus orang meninggal dunia (perkiraan pemerintah sekitar sepuluh kali lebih sedikit daripada perhitungan tidak resmi.) Meskipun keluarga Han tidak mengalami kedukaan pribadi dalam pembantaian tersebut, nama kota kelahirannya, bagi Han menjadi sinonim dari “semua yang telah dimutilasi hingga tak bisa diperbaiki.”

Human Acts,” novel terbaru Han, juga diterjemahkan oleh Smith, mencerita kisah tentang pembantaian. Novel dimulai dengan kisah bocah laki-laki berumur lima belas tahun, Dong-ho, yang tengah menunggu badai berlalu dan perginya militer yang telah memenuhi kotanya dengan mayat, memisahkan ia dengan sahabatnya. Dong-ho pergi mencari sahabatnya, namun ia justru direkrut oleh demonstran untuk mengatalog mayat yang dikumpulkan di gedung pemerintahan setempat. (Kamar mayat sudah penuh.) Di sanalah ia menghadapi serangan kematian yang begitu metodis pada daging manusia—bagaimana luka yang menganga adalah yang paling pertama membusuk dan bagaimana jempol kaki dapat bengkak hingga sebesar satu ruas penuh jahe lalu berubah warna menjadi hitam yang mengerikan.

Alunan lagu kebangsaan Korea perlahan memenuhi bangunan. Lagu itu dinyanyikan selama ritus pemakaman dilaksanakan di luar. Ketika Dong-ho bertanya kenapa orang-orang yang berduka ikut menyanyikan lagu kebangsaan itu—“seolah bukan bangsa itu sendiri yang telah membunuh mereka”—yang lainnya terkejut. “Tapi, si Jenderal adalah pengkhianat. Ia merebut kekuasaan dengan cara yang salah,” seseorang merespon. “Para tentara hanya mengikuti perintah dari atasan mereka. Bagaimana bisa kau menganggap mereka mewakili bangsa?” Dong-ho menyadari bahwa pertanyaan yang ingin ia tanyakan ternyata lebih besar, dan lebih abstrak, atau mungkin merupakan sebundel pertanyaan, tentang persistensi kekejaman dan makna kebebasan. Epiphany-nya menggaungkan kesadaran In-Hye dalam The Vegetarian, bahwa kelangsungan hidupnya bukanlah kemenangan, melainkan sebaliknya, karena untuk itu ia harus mengorbankan martabatnya.

Pada bab keempat, setelah pasukan militer mengambil alih Kwangju, Dong-ho yang mengangkat tangan, menyerah; ditembak dan mati di tangan tentara. Masing-masing bab dalam novel tersebut fokus pada seseorang yang berpengaruh dalam hidup mereka yang singkat; Siswa sekolah menegah yang tumbuh dewasa menjadi editor yang bertugas mensensor fakta-fakta dari pembantaian yang terjadi, sarjana yang menjadi tahanan politik dan akhirnya bunuh diri, gadis pekerja pabrik yang menjadi aktivis buruh; ibu Dong-ho, yang terus menerus dihantui kematian putranya. Buku tersebut secara ekstensif bereksperimen dengan narasi orang kedua, dan Han bermain dengan sebutan “Kau” sepanjang cerita, menuliskan pembaca dan melibatkan kita dalam reruntuhannya.

Bab yang paling menyolok adalah “The Boy’s Friend, 1980,” dimana berpusat pada Jeong-dae, teman sekelas Dong-ho yang tertembak ketika keduanya pergi keluar untuk melihat keramaian. Dong-ho berjongkok, berlindung dalam bayangan gedung sambil melihat kaki teman sekelasnya berkedut dan percobaan penyelematannya justru menyebabkan kematian orang lain, hingga tentara menyeret pergi mayat Jeong-dae. Kisah Jeong-dae dinarasikan oleh jiwanya sendiri, tertambat pada mayatnya yang kehabisan darah di dasar tumpukan gunung orang mati, seperti balon kempis yang tersangkut di dahan pohon. Dong-ho mengajari kita tentang bahasa orang mati, Jeong-dae menjelaskan perjuangan sebuah jiwa mencoba memahami kematian tubuhnya. Jiwa-jiwa yang saling menyentuh namun tidak bisa terhubung dideskripsikan sebagai “api menjilati dinding kaca lincir hanya untuk tergelincir dan hilang, kalah oleh pembatas apa pun yang ada.”

Tidak seperti Dong-ho, yang mencoba menolak ingatannya, menguburkannya dalam rasa hina, Jeong-dae mencari perlindungan pada masa lalunya sebagai cara menghindari pemandangan mayatnya yang kotong. Dalam buku-buku Han, mereka yang membatasi diri dari sejarahnya sendiri ditakdirkan hidup dalam kehidupan yang tidak lebih berharga daripada kematian. Karakter yang merangkul ketakutannya sendiri setidaknya memiliki harapan akan kebebasan. Mengurai kisah dari memori semacam ini tentu menyakitkan, namun juga membantu dalam mendiagnosa cedera yang dihasilkan.

Dalan sebuah esai tentang menerjemahkan Human Acts, diterbitkan dalam majalah daring Asymptote, Deborah Smith menggambarkan, ia membaca karya Han dan menjadi terbelenggu dalam gambaran setajam pisau yang bangkit dari dalam teks tanpa hadir secara langsung di dalamnya. Ia mengutip beberapa interpolasi yang sangat jarang, termasuk ungkapan “api yang menjilati dinding kaca.” Charse Yun, dalam esainya tentang The Vegetarian, mengumumkan kekagumannya pada karya Smith namun membantah jika itu disebut “kreasi baru.” Smith berkeras bahwa ungkapan-ungkapan yang ditambahkannya merupakan gambaran “yang begitu kuatnya bangkit karena bahasa Korea yang terkadang, membuatku terus mencari dalam teks aslinya walaupun sia-sia, yakin bahwa ungkapan maksud tersebut ada di dalamnya sejelas mereka muncul dalam benakku.”

Ini bukanlah yang normalnya disebut terjemahan. Orang mungkin dapat membandingkannya dengan karya kolaborasi dari penulis dan editor; Han telah mengatakan bahwa prosesnya banyak melibatkan dirinya dan Smith, “seperti bercakap-cakap tanpa henti.” Imitasi puisi dari The Latitude karya Robert Lowell terlintas dalam pikiran. (Yun mengutip “Cathay” karya Ezra Pound.) Dan lagi, yang Smith gambarkan adalah efek yang penulis mana pun mungkin berharap dapat melakukan hal tersebut pada para pembacanya: perasaan terhubung yang begitu dalam hingga ia menyerap teks ke dalam pengalamannya sendiri. Hal itu juga tampaknya sangat selaras dengan tujuan Han sebagai penulis. Pada 2015, Han menulis tentang loka karya penerjemahan yang ia ikuti di Inggris, loka karya dimana Smith dan peserta lainnya berlatih keras untuk mengubah salah satu ceritanya dari Bahasa Korea ke Bahasa Inggris. Dalam sebuah esai tentang pengalamannya tersebut, Han menjelaskan sebuah mimpi yang ia dapatkan selagi ia berada di sana. “Seseorang berbaring di atas dipan putih, dan aku dengan tenang mengamatinya,” tulisnya. (Esai ini juga diterjemahkan oleh Smith.) Meskpiun wajah orang yang tertidur itu ditutupi sehelai kain putih, Han dapat mendengar apa yang ia katakan. “Aku harus bangun sekarang... tidak, terdengar itu terlalu datar.” Lalu, “Aku benar-benar harus bangun sekarang... tidak, itu terdengar terlalu hambar.” Dan, “Aku harus meninggalkan dipan ini... tidak, terdengar canggung.” Terjemahan yang bagus, alam bawah sadar Han seperti menyarankan, terjemahan yang baik adalah sebuah hal yang hidup dan bernapas, yang harus dimengerti pada waktunya, ditemukan dari balik sehelai kain putih. Han mengingat kembali, “Dalam sesi pagi itu, semua orang sangat menikmati cerita tentang mimpiku. (Aku jadi sadar bahwa sangat mungkin mimpi buruk seseorang, membuat orang lain merasa bahagia.)”

Human Acts diakhiri dengan bab berjudul “Sang Penulis, 2013,” yang mengulas tentang Han. (Buku tersebut diterbitkan di Korea Selatan setahun setelahnya.) Dari dalamnya, kita mengetahui bahwa Dong-ho adalah orang sungguhan yang kehidupannya bersinggungan dengan Han dalam cara yang tak bisa dilupakan. Dalam sebuah wawancara pada 2016, Han berkata bahwa menulis tentang Jeong-dae dan Dong-ho benar-benar menyiksa hingga ia hanya bisa menulis tiga hingga empat kalimat dalam sehari. Untuk menulis tentang pembantaian di Kwanju, dijelaskan dalam bukunya, ia berencana untuk meneliti dokumen sejarah, namun Han mendapati dirinya tidak bisa melanjutkan rencananya tersebut, “karena mimpi-mimpinya.” Dalam sebuah dokumen, ia menemukan sebuah berita tentang eksekusi masal yang tak bisa ia hentikan. Dalam dokumen lain, ia seakan menemukan mesin waktu dan mencoba pergi ke 18 Mei 1980. Barangkali sudah menjadi harapan setiap penulis untuk terhubung tanpa sadar dengan karya-karyanya, tapi mimpi-mimpi Han adalah—dimana latar karakternya seolah “telah melewati api membara,” seperti yang ia masukkan dalam wawancara, yang juga diterjemahkan oleh Smith—urusan penuh keringat, interogasi pribadi dimana ia adalah korban dan pelaku di saat yang bersamaan. Kengeriannya mungkin berbeda antara Han dan Yeong-hye, namun mereka ditatah ke kegelapan yang sama, tempat semua kenangan bertahan dan menghadapi poyeksi gambar mengerikan dari hidup mereka masing-masing.

Pada Oktober, Han menulis sebuah opini editorial untuk The Times tentang pengamatannya dari Seoul, pada Korea Utara dan Amerika yang bergabung dalam bencana diplomatik yang berpotensi perusakan dahsyat. “Sesekali, orang-orang asing melaporkan bahwa Korea Selatan punya perilaku misterius pada Korea Utara,” tulisnya. “Bahkan ketika seluruh dunia memandang Kora Utara penuh ketakutan, Korea Selatan tampil begitu tenang.” Tapi, hal itu hanya di permukaan, Han berkeras, “Ketegangan dan kengerian telah terakumulasi delama beberapa dekade dan tertimbun dalam pada diri kita dan tampil dalam kilasan-kilasan.” Bagi Han, tujuan penulisan, seperti penerjemahan, tidak terlalu muncul di permukaan: ia harus menggali perasaan terpendam dan mengembalikan tubuh pada masing-masing karakter fiksi dan orang-orang yang dari mereka karakter itu terinspirasi.

Dalam The White Book, karya terjemahan oleh Smith yang diterbitkan di United Kingdom pada November, Han menggambarkan kepedihan ibunya saat kehilangan bayi perempuan dan bermeditasi sebagai tindakan berduka. Warna putih melambangkan simbol kematian, duka, kelahiran dan karya artistik; Han sengaja membiarkan beberapa halaman kosong. (Dapat disimpulkan bahwa mimpinya tentang terjemahan, dimana kain putih menyelubungi frasa-frasa yang Han usahakan ditulis dengan benar.) Ia ingin karyanya, “bertransformasi menjadi sesuatu yang menyerupai salep putih yang dibalurkan pada sesuatu yang bengkak, seperti kain kasa yang menutupi luka,” jelasnya. Terlebih lagi, ia harus menulis tentang rasa sakit atas kematian saudara perempuannya, karena “mustahil menyembunyikannya.”

Pada Maret, Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye—yang ayahnya adalah seorang militer yang kuat, Park Chung-hee, menjabat sebagai presiden selama Perang Vietnam, dan terbunuh beberapa bulan sebelum kudeta 1980—digulingkan karena korupsi. Skandal tersebut menyentak seluruh negeri. Dalam opini editorial milik Han, ia mengingat kembali rentetan demonstrasi yang ia ikuti musim dingin sebelumnya, sebelum Park Geun-hye meninggalkan kantornya. Demonstrasi itu adalah unjuk rasa terbesar dalam sejarah Korea. Para demonstran meniup lilin yang melambangkan turunnya kegelapan. “Kami hanya ingin merubah masyarakat dengan bantuan lilin yang tenang dan damai,” tulis Han. Gerakan itu mungkin saja dipinjam dari imajinasi Han, atau dari mimpi-mimpinya. Api adalah hal rapuh dan fana yang dapat melambangkan peringatan abadi bagi yang sudah mati dan penerang jalan bagi yang masih hidup. []

____

Ditulis oleh Jiayang Fan
Alih bahasa oleh Devi S. Ariani
Artikel ini muncul dalam edisi cetak Majalah The New Yorker, 15 Januari 2018 dengan kepala berita, "Burried Words."

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar