Potret

By dev - August 25, 2020



        Hari itu, hari Jumat pertama setelah lebaran. Aku membonceng Mas mengikuti sepeda yang ditumpangi Ibuk dan Bapak. Aroma lebaran masih tercium sepanjang jalan; opor dan ketupat. Ibuk mengenakan gamis merah yang mungkin lebih tua dari umurku. Gamis itu masih terlihat mulus dan bagus sebab disimpan oleh Ibuk dengan plastik dalam lemari kayu. Lemari kayu yang beberapa tahun kemudian baru aku pahami bukan lemari pakaian, melainkan lemari dengan kaca tempat memajang gelas dan piring. Dari situlah kemudian aku tahu, kami datang dan menempati rumah simbah ini tanpa membawa apa-apa.

        Kami berhenti di depan sebuah ruko. Ibuk turun dari sepeda dan segera membetulkan letak jilbabnya. Sejak pagi-pagi ia menggosok pakaian kami, memilihkan baju dan kerudung. Bahkan ketika sadar aku hanya punya sandal jepit lusuh, ia bergegas pergi meminjam sepatu ke tetangga untukku. Kami akan berfoto sekeluarga, dicetak besar dan dipajang di ruang tamu, katanya. Aku tidak ingat reaksi Bapak kala itu. Sampai berumur sepuluh tahun, Bapak hanya muncul beberapa kali dalam memori ingatan masa kecilku. Aku ingat terbangun tengah malam ketika ia pulang dari rantau. Aku ingat keluar kamar sambil mengusap mata, duduk di pangkuannya lalu mengingau.

        Saat itu aku masih sepuluh, bocah pemimpi yang punya banyak cita-cita. Mas mungkin empat atau lima belas, nakal seperti anak laki-laki biasanya. Ketika potret keluarga kami selesai dicetak dua hari kemudian, aku masih ingat wajah Ibuk yang tersenyum. Ia mengomel padaku karena tidak membetulkan kerudungnya yang miring, karena Mas dan Bapak terlihat mengantuk, dan aku yang terlihat cemberut. Ia mengomel, tapi tetap tersenyum.[]


___

Desember 2016.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar